Resensi
Sapu Tangan Fang Yin
Sapu Tangan Fang Yin adalah sebuah film pendek
yang mengangkat peristiwa kerusuhan yang terjadi pada Mei 1998 di Indonesia.
Setiap sudut kota Jakarta begitu banyak orang yang berdemonstrasi, mereka
membuat kerusakan, masuk kerumah-rumah orang Tionghoa kemudian menganiaya
penghuninya,membakar gedung-gedung pertokoan. Fang Yin merupakan seorang gadis yang menjadi salah satu korban
kekerasan tersebut, kehormatannya hilang pada peristiwa itu. Kehormatan yang
direnggut baginya sebuah kehancuran dunia bagi gadis berusia 22 tahun ini.
Orang tua Fang Yin berusaha keras mencari hukum untuk putrinya, tapi aparat
bagaikan sampah tak berguna yang tidak berani berbuat apa-apa untuk FangYin
yang saat itu sangat tertekan dengan apa yang di alaminya. Fang Yin yang
dulunya adalah seorang gadis yang penuh keceriaan dan rasa optimis kini telah
menjadi gadis pendiam yang seolah takut untuk melangkah maju.
Peristiwa Mei yaitu tanggal 13
sampai 14 Mei 1998 pemerintah Indonesia mencatat 78 perempuan keturunan
tionghoa menjadi korban pemerkosaan, 85 orang mengalami kekerasan seksual
dimana alat kelaminnya di siksa dengan benda tajam dan banyak pula yang mati
terbunuh. Setelah peristiwa Mei 1998 banyak warga Tionghoa mulai meninggalkan
Indonesia untuk pindah ke luar negeri, semua hartanya di jual dengan harga yang
rendah. Terhitung sekitar 70 ribu warga Tionghoa meninggalkan Indonesia,
begitupun dengan Fang Yin dan keluarganya yang memutuskan untuk pindah ke
Amerika. Tapi ternyata Amerika tidak serta merta memulihkan tekanan yang
dirasakan Fang Yin, apapun dilakukan keluarga Fang Yin untuk mmengembalikan
semangat hidup anaknya, samapai akhirnya ayah Fang Yin memanggil Raisa, seorang
psikolog yang di harapakan dapat membantu Fang Yin untuk bangkit dari
keterpurukannya.
Trauma Fang Yin sedikit demi sedikit
menghilang, namun hal itu tidak menghapus masa lalu dan kebencian Fang Yin
terhadap Indonesia. Karena dia merasa Indonesia adalah negara busuk yang tidak
memiliki keadilan hukum untuk kaum Tionghoa. Waktu sudah berjalan 13 tahun
lamanya ternyata keluarga Fang Yin kekurangan ekonomoi, dan orang tua Fang Yin
menawarka untuk kembali ke Indonesia, karena mereka merasa di Indonesia mereka
lebih mudah untu mendapatkan pengahasilan, tapi Fang Yin menolak. Raisa yang
baru pulang dari Indonesia menceritakan keadaan Indonesia saat ini sudah
berbeda, tidak ada lagi diskriminasi terhadap warga Tionghoa.
Sapu tangan yang selama ini menemani
Fang Yin menjalani hidupnya adalah kenangan Fang Yin terhadap Albert, Indonesia
dan masa lalunya yang perih. Dan kini sapu tangan itu telah telah ia bakar
habis di iringi rasa pedihnya yang juga mulai hilang dan mau mengakui kembali
Indonesia sebagai negaranya.
Dari
petikan resensi Film Sapu Tangan Fang Yin diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
sekarang Indonesia sudah menjadi Negara yang berbeda, berbeda dari sejak tahun
1998 yang penuh dengan diskriminasi. Indonesia sekarang sudah aman, damai dan
tentram. Walaupun memang harus diakui ada segelintir masyarakat yang masih
memandang sebelah mata Etnis Tionghoa. Namun pada dasarnya seseorang yang
berasal dari Etnis manapun seharusnya berusaha untuk saling menghargai satu
sama lain, jangan sampai ada pertikaian apalagi sampai harus memperkosa,
menyakiti, atau bahkan membunuh orang lain yang berasal dari etnis lain.
Salam
Chi Chong Fan

0 comments