featured

Resensi Film Sapu Tangan Fang Yin

11:42 PM

Resensi Sapu Tangan Fang Yin


             Sapu Tangan Fang Yin adalah sebuah film pendek yang mengangkat peristiwa kerusuhan yang terjadi pada Mei 1998 di Indonesia. Setiap sudut kota Jakarta begitu banyak orang yang berdemonstrasi, mereka membuat kerusakan, masuk kerumah-rumah orang Tionghoa kemudian menganiaya penghuninya,membakar gedung-gedung pertokoan. Fang Yin merupakan  seorang gadis yang menjadi salah satu korban kekerasan tersebut, kehormatannya hilang pada peristiwa itu. Kehormatan yang direnggut baginya sebuah kehancuran dunia bagi gadis berusia 22 tahun ini. Orang tua Fang Yin berusaha keras mencari hukum untuk putrinya, tapi aparat bagaikan sampah tak berguna yang tidak berani berbuat apa-apa untuk FangYin yang saat itu sangat tertekan dengan apa yang di alaminya. Fang Yin yang dulunya adalah seorang gadis yang penuh keceriaan dan rasa optimis kini telah menjadi gadis pendiam yang seolah takut untuk melangkah maju.

            Peristiwa Mei yaitu tanggal 13 sampai 14 Mei 1998 pemerintah Indonesia mencatat 78 perempuan keturunan tionghoa menjadi korban pemerkosaan, 85 orang mengalami kekerasan seksual dimana alat kelaminnya di siksa dengan benda tajam dan banyak pula yang mati terbunuh. Setelah peristiwa Mei 1998 banyak warga Tionghoa mulai meninggalkan Indonesia untuk pindah ke luar negeri, semua hartanya di jual dengan harga yang rendah. Terhitung sekitar 70 ribu warga Tionghoa meninggalkan Indonesia, begitupun dengan Fang Yin dan keluarganya yang memutuskan untuk pindah ke Amerika. Tapi ternyata Amerika tidak serta merta memulihkan tekanan yang dirasakan Fang Yin, apapun dilakukan keluarga Fang Yin untuk mmengembalikan semangat hidup anaknya, samapai akhirnya ayah Fang Yin memanggil Raisa, seorang psikolog yang di harapakan dapat membantu Fang Yin untuk bangkit dari keterpurukannya.
             
            Trauma Fang Yin sedikit demi sedikit menghilang, namun hal itu tidak menghapus masa lalu dan kebencian Fang Yin terhadap Indonesia. Karena dia merasa Indonesia adalah negara busuk yang tidak memiliki keadilan hukum untuk kaum Tionghoa. Waktu sudah berjalan 13 tahun lamanya ternyata keluarga Fang Yin kekurangan ekonomoi, dan orang tua Fang Yin menawarka untuk kembali ke Indonesia, karena mereka merasa di Indonesia mereka lebih mudah untu mendapatkan pengahasilan, tapi Fang Yin menolak. Raisa yang baru pulang dari Indonesia menceritakan keadaan Indonesia saat ini sudah berbeda, tidak ada lagi diskriminasi terhadap warga Tionghoa.
            Sapu tangan yang selama ini menemani Fang Yin menjalani hidupnya adalah kenangan Fang Yin terhadap Albert, Indonesia dan masa lalunya yang perih. Dan kini sapu tangan itu telah telah ia bakar habis di iringi rasa pedihnya yang juga mulai hilang dan mau mengakui kembali Indonesia sebagai negaranya.       

Dari petikan resensi Film Sapu Tangan Fang Yin diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sekarang Indonesia sudah menjadi Negara yang berbeda, berbeda dari sejak tahun 1998 yang penuh dengan diskriminasi. Indonesia sekarang sudah aman, damai dan tentram. Walaupun memang harus diakui ada segelintir masyarakat yang masih memandang sebelah mata Etnis Tionghoa. Namun pada dasarnya seseorang yang berasal dari Etnis manapun seharusnya berusaha untuk saling menghargai satu sama lain, jangan sampai ada pertikaian apalagi sampai harus memperkosa, menyakiti, atau bahkan membunuh orang lain yang berasal dari etnis lain.

Salam Chi Chong Fan



You Might Also Like

0 comments

Popular Posts