Jagal adalah sebuah film dokumenter hasil kerja sama Denmark-Britania Raya-Norwegia. Film dokumenter ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi pada tahun 1965-1966 memasukkan dirinya ke dalam sejarah untuk melihat kekejamannya sebagai perbuatan heroik. Film ini disutradarai oleh sutradara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer.
Film Jagal menceritakan peristiwa
pembunuhan yang dilakukan kepada orang-orang komunis yang terjadi di Medan
antara tahun1965 sampai 1966. Cerita yang disampaikan dalam film ini sangat
kuat karena disampaikan sendiri oleh para pelaku pembunuhan itu dengan
memperagakan cara-cara mereka melakukan pembunuhan itu. Para pelaku pembunuhan
itulah yang menjadi pemain di dalam film.
Figur utama dalam film ‘Jagal’ adalah Anwar
Congo, Anwar menceritakan pada tahun
60-an dia dan teman-temannya hidup sebagai tukang catut karcis bioskop di kota
Medan. Mereka menamakan diri mereka preman, orang yang bebas berbuat menurut
kehendak hatinya. Anwar Congo dan kawan-kawannya menari-nari sepanjang adegan
musikal, menyiksa tahanan dalam adegan gangster bergaya film noir, lalu berkuda
melintas padang rumput melantunkan yodel koboi. Upaya Anwar membuat film
mendapatkan sambutan meriah dalam acara bincang-bincang di televisi, sekalipun
Anwar Congo dan kawan-kawannya adalah pembunuh massal.
Anwar dan teman-teman satu komplotannya
merupakan para penggemar film-film Hollywood. Ketika Partai Komunis Indonesia menyerukan boikot
terhadap film-film Amerika maka pendapatan Anwar Congo dan teman-temannya
langsung menurun drastis. Hal ini yang kemudian memicu kebencian mereka dan
preman-preman lainnya terhadap kaum komunis.
Selain Anwar Congo dan teman-temannya,
dalam film ‘Jagal’ ditunjukkan adanya Pemuda Pancasila yang turut serta dalam pembunuhan orang-orang komunis. Hal lain
yang ditayangkan dalam film adalah hadirnya pejabat pemerintah yang datang
untuk memberi semangat kepada pelaku-pelaku pembunuhan.
Saat
militer merencanakan pembantaian fisik terhadap PKI, Preman-preman ini dengan menggunakan
imajinasi sakti mereka menjelaskan bahwa mereka terus menerus menemukan cara
baru untuk menyiksa dan membunuh. Karena mereka sebelumnya telah membunuh
banyak orang dan menyadari bahwa pembunuhan tersebut menyita banyak waktu maka
mereka menemukan cara baru yang mereka anggap lebih efisien. Dalam film ini
mereka juga menjalankan peran antara pelaku dan korban secara bergantian. Saat pemerintah Indonesia digulingkan
oleh militer pada 1965, Anwar dan kawan-kawan naik pangkat dari preman kelas
teri pencatut karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembunuh. Mereka membantu
tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis tionghoa,
seniman, dan intelektual.
Film ‘Jagal’ penuh dengan adegan yang
menggambarkan kekejaman dan membuat takut yang menonton. Namun jalan ceritanya menggambarkan bahwa
pembunuhan kejam dengan cara yang menakutkan itu bagi para pelaku pembunuhan
adalah sesuatu yang harus mereka lakukan dan mereka melakukannya dengan senang.
Mereka tidak merasa berbuat salah, bahkan Adi, seorang di antara para pelaku
pembunuhan itu membanggakan perbuatan mereka dan berkata ”kami menang”. Di
bagian akhir film ada adegan bidadari-bidadari menari lemah gemulai yang
mengartikan bahwa pelaku pembunuhan akan masuk ke surga bersama dengan bidadari
cantik.

0 comments