featured

Resensi Film Jagal

4:20 AM


       Jagal adalah sebuah film dokumenter hasil kerja sama Denmark-Britania Raya-Norwegia. Film dokumenter ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi pada tahun 1965-1966 memasukkan dirinya ke dalam sejarah untuk melihat kekejamannya sebagai perbuatan heroik. Film ini disutradarai oleh sutradara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer.

Film Jagal menceritakan peristiwa pembunuhan yang dilakukan kepada orang-orang komunis yang terjadi di Medan antara tahun1965 sampai 1966. Cerita yang disampaikan dalam film ini sangat kuat karena disampaikan sendiri oleh para pelaku pembunuhan itu dengan memperagakan cara-cara mereka melakukan pembunuhan itu. Para pelaku pembunuhan itulah yang menjadi pemain di dalam film.

Figur utama dalam film ‘Jagal’ adalah Anwar Congo,  Anwar menceritakan pada tahun 60-an dia dan teman-temannya hidup sebagai tukang catut karcis bioskop di kota Medan. Mereka menamakan diri mereka preman, orang yang bebas berbuat menurut kehendak hatinya. Anwar Congo dan kawan-kawannya menari-nari sepanjang adegan musikal, menyiksa tahanan dalam adegan gangster bergaya film noir, lalu berkuda melintas padang rumput melantunkan yodel koboi. Upaya Anwar membuat film mendapatkan sambutan meriah dalam acara bincang-bincang di televisi, sekalipun Anwar Congo dan kawan-kawannya adalah pembunuh massal.

Anwar dan teman-teman satu komplotannya merupakan para penggemar film-film Hollywood. Ketika  Partai Komunis Indonesia menyerukan boikot terhadap film-film Amerika maka pendapatan Anwar Congo dan teman-temannya langsung menurun drastis. Hal ini yang kemudian memicu kebencian mereka dan preman-preman lainnya terhadap kaum komunis.

Selain Anwar Congo dan teman-temannya, dalam film ‘Jagal’ ditunjukkan adanya Pemuda Pancasila yang turut serta  dalam pembunuhan orang-orang komunis. Hal lain yang ditayangkan dalam film adalah hadirnya pejabat pemerintah yang datang untuk memberi semangat kepada pelaku-pelaku pembunuhan.

Saat militer merencanakan pembantaian fisik terhadap PKI, Preman-preman ini dengan menggunakan imajinasi sakti mereka menjelaskan bahwa mereka terus menerus menemukan cara baru untuk menyiksa dan membunuh. Karena mereka sebelumnya telah membunuh banyak orang dan menyadari bahwa pembunuhan tersebut menyita banyak waktu maka mereka menemukan cara baru yang mereka anggap lebih efisien. Dalam film ini mereka juga menjalankan peran antara pelaku dan korban secara bergantian. Saat pemerintah Indonesia digulingkan oleh militer pada 1965, Anwar dan kawan-kawan naik pangkat dari preman kelas teri pencatut karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembunuh. Mereka membantu tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis tionghoa, seniman, dan intelektual.  
   
Film ‘Jagal’ penuh dengan adegan yang menggambarkan kekejaman dan membuat takut yang menonton.  Namun jalan ceritanya menggambarkan bahwa pembunuhan kejam dengan cara yang menakutkan itu bagi para pelaku pembunuhan adalah sesuatu yang harus mereka lakukan dan mereka melakukannya dengan senang. Mereka tidak merasa berbuat salah, bahkan Adi, seorang di antara para pelaku pembunuhan itu membanggakan perbuatan mereka dan berkata ”kami menang”. Di bagian akhir film ada adegan bidadari-bidadari menari lemah gemulai yang mengartikan bahwa pelaku pembunuhan akan masuk ke surga bersama dengan bidadari cantik.

 

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts