Chi
Chong Fan adalah nama kelompok kami untuk Mata
Kuliah Pranata Tionghoa, kami adalah mahasiswa/i yang tergabung dalam sebuah kelompok yang
beranggotakan 6 orang dan saat ini masih
berkuliah di Fakultas Bisnis, Jurusan Akuntansi, Angkatan 2014 di Universitas
Buddhi Dharma Karawaci-Tangerang.
Alasan kami memberi nama kelompok ini
dengan nama Chi Chong Fan karena Chi Chong Fan berasal dari kata Cheong Fun (fan cheong 腸粉 atau è‚ ç²‰ Changfen) yang
artinya adalah lembar mie beras kukus. Mie yang melambangkan kehidupan yang
panjang dan beras melambangkan kesejahteraan hidup dan kemakmuran serta
kebahagiaan yang didambakan setiap orang maka dari itu kami juga berharap
kelompok kami bisa menjadi kelompok yang terus bisa bersama dalam waktu yang
panjang baik itu di luar atau di dalam kampus dan memberikan kebahagiaan satu
sama lain. Chi Chong Fan yang tadinya hanya berupa mie beras mentah yang belum
bisa dimakan, setelah dikukus baru bisa dimakan dan bermanfaat untuk orang
lain. Begitu juga dengan kelompok kami yang akan terus berusaha agar bisa
menghasilkan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
Chi Chong Fan juga dicampur dengan uyen,
kue lobak goreng, dan lumpia dan disiram dengan saus cabai manis dan pedas
serta kecap asin. Campuran uyen, kue lobak dan lumpia menandakan bahwa kami
juga satu sama lain saling menyatukan kemampuan, keterampilan serta kreativitas
kami yang berbeda-beda untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Dan disiram dengan
saus manis pedas serta kecap asin menandakan bahwa kelompok kami juga meskipun
ada banyak kesulitan dan tantangan, suka dan duka yang kami rasakan kami akan
terus berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang akan membuat orang lain
tertarik.
Semoga berbagai informasi mengenai
hal-hal yang berhubungan dengan Tionghoa yang kami tampilkan di blog Chi Chong
Fan ini dapat berguna bagi masyarakat luas khususnya generasi muda Tionghoa
agar mau untuk terus mempertahankan kebudayaan Tionghoa.
Salam
Chi Chong Fan
Jagal adalah sebuah film dokumenter hasil kerja sama Denmark-Britania Raya-Norwegia. Film dokumenter ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi pada tahun 1965-1966 memasukkan dirinya ke dalam sejarah untuk melihat kekejamannya sebagai perbuatan heroik. Film ini disutradarai oleh sutradara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer.
Film Jagal menceritakan peristiwa
pembunuhan yang dilakukan kepada orang-orang komunis yang terjadi di Medan
antara tahun1965 sampai 1966. Cerita yang disampaikan dalam film ini sangat
kuat karena disampaikan sendiri oleh para pelaku pembunuhan itu dengan
memperagakan cara-cara mereka melakukan pembunuhan itu. Para pelaku pembunuhan
itulah yang menjadi pemain di dalam film.
Figur utama dalam film ‘Jagal’ adalah Anwar
Congo, Anwar menceritakan pada tahun
60-an dia dan teman-temannya hidup sebagai tukang catut karcis bioskop di kota
Medan. Mereka menamakan diri mereka preman, orang yang bebas berbuat menurut
kehendak hatinya. Anwar Congo dan kawan-kawannya menari-nari sepanjang adegan
musikal, menyiksa tahanan dalam adegan gangster bergaya film noir, lalu berkuda
melintas padang rumput melantunkan yodel koboi. Upaya Anwar membuat film
mendapatkan sambutan meriah dalam acara bincang-bincang di televisi, sekalipun
Anwar Congo dan kawan-kawannya adalah pembunuh massal.
Anwar dan teman-teman satu komplotannya
merupakan para penggemar film-film Hollywood. Ketika Partai Komunis Indonesia menyerukan boikot
terhadap film-film Amerika maka pendapatan Anwar Congo dan teman-temannya
langsung menurun drastis. Hal ini yang kemudian memicu kebencian mereka dan
preman-preman lainnya terhadap kaum komunis.
Selain Anwar Congo dan teman-temannya,
dalam film ‘Jagal’ ditunjukkan adanya Pemuda Pancasila yang turut serta dalam pembunuhan orang-orang komunis. Hal lain
yang ditayangkan dalam film adalah hadirnya pejabat pemerintah yang datang
untuk memberi semangat kepada pelaku-pelaku pembunuhan.
Saat
militer merencanakan pembantaian fisik terhadap PKI, Preman-preman ini dengan menggunakan
imajinasi sakti mereka menjelaskan bahwa mereka terus menerus menemukan cara
baru untuk menyiksa dan membunuh. Karena mereka sebelumnya telah membunuh
banyak orang dan menyadari bahwa pembunuhan tersebut menyita banyak waktu maka
mereka menemukan cara baru yang mereka anggap lebih efisien. Dalam film ini
mereka juga menjalankan peran antara pelaku dan korban secara bergantian. Saat pemerintah Indonesia digulingkan
oleh militer pada 1965, Anwar dan kawan-kawan naik pangkat dari preman kelas
teri pencatut karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembunuh. Mereka membantu
tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis tionghoa,
seniman, dan intelektual.
Film ‘Jagal’ penuh dengan adegan yang
menggambarkan kekejaman dan membuat takut yang menonton. Namun jalan ceritanya menggambarkan bahwa
pembunuhan kejam dengan cara yang menakutkan itu bagi para pelaku pembunuhan
adalah sesuatu yang harus mereka lakukan dan mereka melakukannya dengan senang.
Mereka tidak merasa berbuat salah, bahkan Adi, seorang di antara para pelaku
pembunuhan itu membanggakan perbuatan mereka dan berkata ”kami menang”. Di
bagian akhir film ada adegan bidadari-bidadari menari lemah gemulai yang
mengartikan bahwa pelaku pembunuhan akan masuk ke surga bersama dengan bidadari
cantik.
CHENG
HO
Buku mengenai Cheng Ho dengan judul buku : Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Karangan Prof. Kong Yuanzhi. menceritakan tentang riwayat kehidupan Cheng Ho, serta kedatangan Cheng Ho ke wilayah-wilayah Nusantara. Cheng Ho yang terlahir dari Bangsa Hui ( provinsi Yunan Tiongkok), kakek dan Ayahnya telah melaksanakan rukun islam yang kelima yaitu ibadah Haji.
Cheng Ho adalah muslim yang taat, ia giat menyebarkan agama Islam baik di Tiongkok maupun di negara asing. Cheng Ho yang juga merupakan kasim kesayangan kaisar Ming yang ditugaskan untuk membawa misi perdamaian dan menjalin persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain, termasuk ke Nusantara. Laksamana Cheng Ho tercatat sudah 7 kali mendatangi Nusantara dan dari kunjungannya tersebut, Cheng Ho telah meninggalkan jejak kebudayaan Tiongkok yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal Nusantara.
Cheng Ho atau Sam Po Kong di dalam kru kapal tidak hanya terdapat orang yang beragama Islam tetapi juga ada yang beragama Buddha dan Tao dan Cheng Ho tidak pernah melarang awak kapalnya untuk melaksanakan ritual agamanya. Cheng Ho tetap taat dan menghormati kegiatan ritual kaum Buddhis dan kaum Taois.
Buku tentang Cheng Ho ini juga menceritakan secara lengkap mengenai Cheng Ho. Tidak hanya menceritakan tentang kehidupan Laksamana Cheng Ho tetapi juga perjalanan Cheng Ho ke Nusantara untuk menyebarkan agama Islam dan budaya-budaya Tiongkok ke Nusantara.
Tujuan dari diterbitkannya buku ini, agar seluruh masyarakat khususnya generasi muda dapat memahami bagaimana Cheng Ho sebagai warga keturunan Tionghoa menyebarkan agama Islam di Nusantara. Agar apa yang sudah dilakukan Cheng Ho menjadi teladan bagi masyarakat luas khususnya generasi muda Tionghoa dan dapat menumbuhkembangkan rasa toleransi antar etnik di Indonesia.










